Perkembangan Teknologi Touchscreen
Teknologi Touchscreen

Touchscreen merupakan sebuah perangkat komputer yang biasanya digunakan
untuk menampilkan informasi grafikal dan visual yang merupakan output
dari sebuah perangkat komputer. Namun, yang membedakannya dengan monitor
atau layar televisi biasa adalah apa yang ditampilkan di dalamnya dapat
secara langsung berinteraksi fisik dengan penggunanya.
Maksudnya, Anda dapat langsung menyentuh layar penampil tersebut
dengan tangan atau alat bantu untuk mengakses apa yang ditampilkan di
dalamnya.
Cara Kerja Touchscreen
Sebuah layar touchscreen yang paling sederhana terdiri dari tiga buah
komponen utama dalam bekerja. Komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Touch Sensor
Touch sensor merupakan sebuah lapisan penerima input dari luar monitor.
Input dari touchscreen adalah sebuah sentuhan, maka dari itu sensornya juga merupakan sensor sentuh.
2. Controller
Controller merupakan sebuah perangkat yang digunakan untuk
menghubungkan antara sensor dengan perangkat komputer yang akan
memproses sentuhan tersebut.
3. Software driver
Software driver merupakan sebuah software pengatur yang diinstal pada
perangkat komputer atau PC Anda yang tugasnya adalah untuk mengatur
agar perangkat touchscreen dan komputer dapat bekerja sama untuk
digunakan dalam berbagai macam keperluan.
Teknologi Touchscreen
1. Resistive Touchscreen

Touchscreen yang termasuk dalam jenis ini adalah touchscreen yang
layarnya dilapisi oleh sebuah lapisan tipis berwarna metalik yang
bersifat konduktif dan resistif terhadap sinyal-sinyal listrik. Maksud
dari lapisan yang bersifat konduktif adalah lapisan yang bersifat mudah
menghantarkan sinyal listrik, sedangkan lapisan resistif adalah lapisan
yang menahan arus listrik. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh sebuah
bintik-bintik transparan pemisah, jadi lapisan ini pasti terpisah satu
sama lain dalam keadaan normal. Pada lapisan konduktif tersebut juga
mengalir arus listrik yang bertugas sebagai arus referensi.
Ketika terjadi sentuhan kedua lapisan ini akan dipaksa untuk saling
berkontak langsung secara fi sik. Karena adanya kontak antara lapisan
konduktif dan resistif maka akan terjadi gangguan pada arus listrik
referensi tersebut. Efek dari gangguan ini pada lapisan konduktif adalah
akan terjadi perubahan arus-arus listriknya sebagai reaksi dari sebuah
kejadian sentuhan. Perubahan nilai arus referensi ini kemudian
dilaporkan ke controllernya untuk di proses lebih lanjut lagi.
Informasi sentuhan tadi diolah secara matematis oleh controller
sehingga menghasilkan sebuah koordinat dan posisi yang akurat dari
sentuhan tersebut. Kemudian informasi ini diintegrasikan dengan program
lain sehingga menjadi aplikasi yang mudah digunakan.
Touchscreen monitor yang dirancang dengan menggunakan media jenis ini
secara umum cukup nyaman digunakan, namun ada juga kekurangan dari
teknologi ini. Layar yang dihasilkan oleh teknologi ini hanya memiliki
tingkat kejernihan gambar sebesar 75% saja, sehingga monitor akan tampak
kurang jernih.
Kelemahan yang lainnya monitor dengan teknologi touchscreen ini sangat
rentan dan lemah terhadap sentuhan benda-benda yang agak tajam, sehingga
penggunanya harus diekstra hati-hati. Teknologi ini tidak akan
terpengaruh oleh elemen-elemen lain di luar seperti misalnya debu atau
air, namun touchscreen ini akan merespon semua sentuhan yang
mengenainya, baik itu menggunakan jari tangan langsung maupun
menggunakan benda lain seperti stylus. Sangat cocok digunakan untuk
keperluan di dalam dunia industri seperti di pabrik, laboratorium, dan
banyak lagi.
2. Surface Wave Touchscreen
Teknologi touchscreen yang satu ini memanfaatkan gelombang ultrasonik
untuk mendeteksi kejadian di permukaan layarnya. Di dalam monitor
touchscreen ini terdapat dua tranduser, pengirim dan penerima sinyal
ultrasonik. Selain itu dilengkapi juga dengan sebuah reflektor yang
berfungsi sebagai pencegah agar gelombang ultrasonic tetap berada pada
area layar monitor. Kedua tranduser ini dipasang dalam keempat sisi, dua
vertikal dan dua horizontal. Ketika panel touchscreen-nya tersentuh,
ada bagian dari gelombang tersebut yang diserap oleh sentuhan tersebut,
misalnya terhalang oleh tangan, stylus, tuts, dan banyak lagi. Sentuhan
tadi telah membuat perubahan dalam bentuk gelombang yang dipancarkan.
Perubahan gelombang ultrasonik yang terjadi kemudian diterima oleh
receiver dan diterjemahkan ke dalam bentuk pulsa-pulsa listrik.
Selanjutnya informasi sentuhan tadi berubah menjadi sebentuk data yang
akan di teruskan ke controller untuk diproses lebih lanjut.
Data yang dihasilkan dari sentuhan ini tentunya adalah data mengenai
posisi tangan Anda yang menyentuh sinyal ultrasonik tersebut. Jika ini
dilakukan secara kontinyu dan terdapat banyak sekali sensor gelombang
ultrasonic pada media yang disentuhnya, maka jadilah sebuah perangkat
touchscreen yang dapat Anda gunakan.
Touchscreen jenis ini diklaim sebagai jenis touchscreen yang paling
canggih dan memiliki banyak keunggulan daripada kedua jenis touchscreen
lainnya. Karena tidak menggunakan bahan pelapis metalik melainkan sebuah
lapisan kaca, maka tampilan dari layar touchscreen jenis ini mampu
meneruskan cahaya hingga 90 persen, sehingga lebih jernih dan terang
dibandingkan dengan Resistive touchscreen. Tanpa adanya lapisan sensor
juga membuat touchscreen jenis ini menjadi lebih kuat dan tahan lama
karena tidak akan ada lapisan yang dapat rusak atau haus ketika di
sentuh, tidak ada lapisan yang akan rusak ketika terkena air, minyak,
debu, dan banyak lagi.
Namun touchscreen ini juga bukannya tanpa kelemahan. Meskipun secara
fisik kebal terhadap gangguan elemen-elemen luar, kinerja dari
touchscreen ini dapat diganggu oleh elemen-elemen seperti debu, air, dan
benda-benda padat lainnya. Sedikit saja terdapat debu atau benda lain
yang menempel di atasnya maka touchsreen dapat mendeteksinya sebagai
suatu sentuhan. Sensor-sensor ultrasonicnya akan langsung bekerja dengan
baik. Maka itu touchscreen jenis ini harus dijaga dengan ekstra
hati-hati. Touchscreen jenis ini sangat cocok digunakan pada ruangan
training komputer, keperluan dalam ruangan untuk menampilkan informasi
dengan sangat jernih dan tajam, presentasi dalam ruangan, dan banyak
lagi.
3. Capasitive Touchscreen
Touchscreen jenis ini memiliki cara kerja yang cukup rumit, namun sangat
andal dalam ketahanan dan kejernihannya. Capasitive touchscreen
memiliki sebuah lapisan pembungkus yang merupakan kunci dari cara
kerjanya, yaitu pembungkus yang bersifat capasitive pada seluruh
permukaannya. Panel touchscreen ini dilengkapi dengan sebuah lapisan
pembungkus berbahan indium tinoxide yang dapat meneruskan arus listrik
secara kontiniu untuk kemudian ditujukan ke sensornya.
Lapisan ini dapat memanfaatkan sifat capacitive dari tangan atau tubuh
manusia, maka dari itu lapisan ini dipekerjakan sebagai sensor sentuhan
dalam touchscreen jenis ini. Ketika lapisan berada dalam status normal
(tanpa ada sentuhan tangan), sensor akan mengingat sebuah nilai arus
listrik yang dijadikan referensi. Ketika jari tangan Anda menyentuh
permukaan lapisan ini, maka nilai referensi tersebut berubah karena ada
arus-arus listrik yang berubah yang masuk ke sensor. Informasi dari
kejadian ini yang berupa arus listrik akan diterima oleh sensor yang
akan diteruskan ke sebuah controller. Controller ini berfungsi untuk
meneruskan informasi tersebut ke mesin pengalkulasi posisi dari gangguan
atau sentuhan tersebut. Proses kalkulasi posisi akan dimulai di sini.
Kalkulasi ini menggunakan posisi dari ke empat titik sudur pada panel
touchscreen sebagai referensinya. Ketika hasil perhitungannya didapat,
maka koordinat dan posisi dari sentuhan tadi dapat di ketahui dengan
baik. Akhirnya informasi dari posisi tersebut akan diintegrasikan dengan
program lain untuk menjalankan sebuah aplikasi.
Capasitive touchscreen sangat berbeda dengan kedua jenis touchscreen
sebelumnya. Touchscreen jenis ini baru dapat bekerja jika
sentuhan-sentuhan yang ditujukan kepadanya berasal dari benda yang
bersifat konduktif seperti misalnya jari-jari Anda. Tidak seperti
Resistive atau Surface wave yang dapat disentuh dengan jari tangan
ataupun stylus, touchscreen ini hanya dapat dioperasikan dengan jari
saja. Tetapi dengan adanya sifat seperti ini, maka touchscreen ini tidak
mudah terpengaruh oleh gangguan dari benda-benda lain di atasnya
seperti misalnya debu atau air.
Tampilan layarnya pun sangat jernih daripada jenis Resistive touchscreen
sehingga sangat cocok untuk digunakan dalam berbagai keperluan
interaksi dalam publik umum seperti misalnya di restoran, kios
elektronik, lokasi Point Of Sales, dan banyak lagi.
4. Resistive Screen
Sistem resistif layarnya dilapisi oleh lapisan tipis berwarna metalik
yang bersifat konduktif dan resistif terhadap sinyal-sinyal listrik.
Maksud dari lapisan yang bersifat konduktif adalah lapisan yang bersifat
mudah menghantarkan sinyal listrik, sedangkan lapisan resistif adalah
lapisan yang menahan arus listrik.
Kedua lapisan ini dipisahkan oleh sebuah bintik-bintik transparan
pemisah, sehingga lapisan ini pasti terpisah satu sama lain dalam
keadaan normal. Pada lapisan konduktif tersebut juga mengalir arus
listrik yang bertugas sebagai arus referensi.
5. Surface Acoustic Wave System
Teknologi touchscreen ini memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk
mendeteksi kejadian di permukaan layarnya. Di dalam monitor touchscreen
ini terdapat dua tranduser, pengirim dan penerima sinyal ultrasonik.
Selain itu dilengkapi juga dengan sebuah reflektor yang berfungsi
sebagai pencegah agar gelombang ultrasonic tetap berada pada area layar
monitor.
Kedua tranduser ini dipasang dalam keempat sisi, dua vertikal dan dua
horizontal. Ketika panel touchscreen-nya tersentuh, ada bagian dari
gelombang tersebut yang diserap oleh sentuhan tersebut, misalnya
terhalang oleh tangan, stylus, tuts, dan banyak lagi. Sentuhan tadi
telah membuat perubahan dalam bentuk gelombang yang dipancarkan.
6. Kekurangan Touchscreen
Namun touchscreen ini juga bukannya tanpa kelemahan. Meskipun secara
fisik kebal terhadap gangguan elemen-elemen luar, kinerja dari layar
sentuh ini dapat diganggu oleh elemen-elemen seperti debu, air, dan
benda-benda padat lainnya.